Investor Saham

Friday, August 14, 2015

Belajar Dikit Makro Ekonomi

Bagi kebanyakan orang mungkin sudah mengenal dengan istilah makro ekonomi apabila anda sedang ataupun pernah bertransaksi forex tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah makro ekonomi suatu negara. Maju mundurnya ekonomi suatu negara tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan dibidang perekonomian yang diluncurkan untuk menggairahkan perekonomian negara tersebut. Salah satu contoh mungkin yang lazim di dunia adalah naik turunnya tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Central. Namun di banyak-banyak negara berbagai macam kebijakan-kebijakan yang diambil oleh suatu negara untuk memacu pertumbuhan ekonominya. Kalau di Indonesia saat ini yang paling sering saya lihat kebijakan dari Bank Central terkait dengan kebijakan makro ekonominya adalah penurunan atau kenaika suku bunga. Penurunan suku bunga dampak langsung kepada pengusaha di Indonesia, dimana pengusaha-pengusaha di Indonesia akan mendapatkan pinjaman dana murah, namun di sisi lain nilai tukar mata uang kita akan melemah terhadap US$ hal ini terjadi karena ada capital outflow terkait investasi dollar di Indonesia karena suku bunga investasi juga rendah. Maksudnya disini orang akan lebih banyak membeli dollar,daripada memegang rupiah karena adanya penurunan suku bunga ini, begitu juga sebaliknya. Namun bagi kalangan ekxportir, dengan adanya pelemahan rupiah ini tentunya sangat menguntungkan,begitu juga sebaliknya importir akan kalang kabut jikalau pelemahan rupiah terus berlanjut.
Nah disinilah peran dari pemerintah untuk mengambil kebijakan-kebijakan agar pelaku-pelaku ekonomi tetap tumbuh dengan baik tentunya tenaga kerja terserap dengan baik dan antara exportir dan importir mendapatkan nilai tukar yang kompetitip. 
Mungkin kalau kita jadi berpikir sendirian untuk mengurusi makro ekonomi Negara Indonesia, Mampu ngga yah ? tentunya bikin strest melulu he he he..
Saya pribadi lulusan ekonomi namun baru kali ini memahami kebijakan-kebijakan makro ekonomi dan bagaimana efeknya terhadap nilai mata uang..he.he.ehe.
Tentunya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tidak langsung terasa efeknya butuh setahun atau 2 tahun untuk membuktikan apabila kebijakan tersebut berhasil atau tidak untuk menggerakkan perekonomian. Tentunya untuk efek nilai tukar mata uang berpengaruh pada saat itu juga..makanya begitu ada rumors saja efeknya udah jalan duluan apalagi pas di umumkan bisa naik turun nilai tukar mata uangnya..
Banyak contoh negara yang sudah mengeluarkan kebijakan makro ekonominya misalnya Amerika saat krisis terjadi mereka langsung menurunkan suku bunganya dan ada tambahan penggelontoran stimulus besar-besaran. Pada saat terjadi krisis profesional trader sudah menduga bahwa untuk menanggulangi krisis harus dengan menggerakkan sektor ekonominya, agar sektor ekonominya bangkit dan berkembang jalan satu satunya menurunkan suku bunga, apalagi dengan penggelontoran stimulus besar-besaran orang akan malas pegang dollar amerika karena harganya sangat murah..Nilai tukar dollar terjun ke titik terendah. Setelah 5 tahun program itu berjalan ternyata kebijakan yang diambil oleh amerika tersebut berjalan efektip. Nah dirasa perekonomian sudah membaik, apabila kebijakan tersebut berakibat pada inflasi.Jikalau inflasi terlalu tinggi tentunya akan menghantam perekonomian lagi..he.he.he ruwet sekali ternyata.
Kok bisa yah, berpengaruh terhadap inflasi ? karena dengan suku pinjaman yang rendah orang akan berprilaku konsumtif, importirnya yang senang namun ekportirnya yang mati suri..
Berarti  semua negara ingin melemahkan mata uangnya donk agar produk mereka bisa kompetitip di pasar dunia, kalau suatu negara bisa berdikari tentunya itu sangat bagus namun apabila negara tersebut sudah ketergantungan dengan negara lain tentunya tidak bisa. Harus dicari titik equilibrium nilai tukar untuk mendapatkan nilai tukar yang bisa diterima oleh eksportir maupun importir.
Oh iya patokan nikai tukar ini berpatokan terhadap dollar amerika yah. Terlalu kuat atau terlalu lemah sangat tidak bagus terhadap perekonomian negara tersebut. 
Contoh salah satu Kebijakan makro ekonomi yang diambil oleh negara China tahun 2015 ini adalah mendevaluasi mata uangnya, devaluasi mata uang maksudnya melemahkan nilai tukar mata uang terhadap mata uang negara lain. Tujuannya apa sih? Tujuan tentunya agar produk barang yang diproduksi di cina menjadi lebih kompetitip di pasar dunia, sehingga Eksport barang menjadi meningkat tentunya mendatangkan devisa bagi negara China. Bagaimana kalau semua negara mendevaluasi mata uangnya? Bisa bisa pasar mata uang dunia bergejolak dan mengakibatkan kehancuran bagi perekonomian negara lain. 
Bisa dibayangkan klo Amerika secara tiba tiba mengambil kebijakan mendevaluasi mata uangnya, kebijakan kebijakan negara lain bisa tidak berarti apa apa. 
Kebijakan untuk mendevaluasi mata uang dimungkinkan bila inflasi di negara tersebut sangat rendah, begitu juga sebaliknya apabila inflasi negara tersebut sangat tinggi tidak mungkin negara tersebut melakukan kebijakan ini. Berbagai macam kebijakan-kebijakan makro ekonomi yang bisa diambil oleh suatu megara namun tujuannya hanya satu untuk menggerakkan sektor perekonomian negara tersebut. Ini hanya tulisan sesuai dengan pengetahuan saya pribadi,apabila keliru mohon di koreksi.
Oh iya rupiah sekarang di pasar spot udah 13.750 lho, semua orang bingung kok bisa rupiah melorot terus. Selain karena penguatan dollar,hal ini mungkin karena adanya penurunan tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia. Saya pribadi berasumsi, penyebab utama dari melorotnya nilai tukar rupiah ini karena adanya kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuannya bulan kemarin dan faktor kebijakan-kebijakan bapak presiden Jokowi yang masih belum terarah dengan jelas. Bukan karena faktor ekternal. Saat Amerika menggelontorkan triliunan dollar ke pasar, nilai tukar rupiah adem ayem ngga pernah menyentuh 9.000. Padahal saat itu nilai tukar negara negara lain melonjak mencapai titik tertinggi dalam sejarahnya, sedikit sekali pengaruhnya terhadap rupiah. He he he he he.dollar bisa mencapai 20.000 ngga yah.? Bisa saja terjadi apabila kebijakan makro ekonomi yang diambil untuk menggairahkan eksport di Indonesia.

0 comments:

Post a Comment